We travel, We learn, We sketch: ACEH
Tampilkan postingan dengan label ACEH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ACEH. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2014

Berlian Hitam di Ujung Barat Indonesia




Masih ada 4 jam sebelum bus yang akan membawaku ke arah Medan berangkat, di samping  aku masih perlu berpamitan serta mengucapkan terimakasih kepada kawanku Bang Arie Yamani, yang  dengan ramah menerima serta memberiku banyak informasi berharga selama di Aceh.  Jadi kuputuskan untuk untuk shalat Ashar, menunggu kawanku di tempat ini, sekaligus merekam Masjid kebanggaan Aceh dan Indonesia dengan bolpoin cairku.  




Mungkin tidak bakal ada yang tahu kalau ini adalah Masjid Baiturrahman karena aku hanya menggambar kubahnya saja, dengan mencoba-coba memberikan efek fish eye-lense di kertas sketch book kecil ku yang tinggal 1 lembar. Dari bagian-bagian masjid yang lain, kubah inilah yang paling menarik perhatianku, bagaikan sebuah berlian hitam. Menurut sejarah yang kubaca di plakat dekat pintu masuk masjid, Ada 5 ‘kubah hitam’ yang berdiri sekarang, 3 di antaranya didirikan oleh Belanda, karena masjid aslinya pada tahun 1873 dibakar Belanda sewaktu penyerangan ke Banda Aceh. Sedangkan 2 diantaranya didirikan Pemerintah Indonesia.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Di antara Balohan-Ulee Lheue

Tibalah saatnya meninggalkan Pulau Weh...Aku menaiki Ferry cepat untuk pulang, berbeda ketika aku menuju ke pulau ini. Tiketnya memiliki harga 3 macam sesuai dengan lokasi dimana kita duduk. Tiket termurah sudah tidak kudapatkan jadi aku mendapat tiket kelas 2 (harga tengah-tengah). Ternyata aku mendapat tempat duduk dengan kursi empuk di dalam yang mungkin nyaman untuk sebagian besar orang, tapi tidak buatku. Jadi aku memutuskan untuk berkeliling, sampailah aku di dek paling atas, tiket termurah tanpa atap....NAH INI BARU NYAMAN, aku bisa melihat langit, air laut, merasakan tiupan angin, sambil bisa membuat sketsa dengan lebih nyaman.


 



Mereka adalah penumpang yang duduk di depanku, dengan latar belakang gerbang masuk pelabuhan Balohan Sabang. Pada tahun 1970, Sabang merupakan pelabuhan bebas internasional, namun oleh karena kondisi keamanan dan politik maka pada tahun 1985 statusnya dicabut, sampai pada tahun 2000 status pelabuhan bebasnya diaktifkan kembali, namun jika melihat dari kondisinya sekarang  tidak nampak  kalau pelabuhan ini merupakan pelabuhan bebas internasional, entahlah...Bisa jadi karena Pulau Weh ini memiliki dilema kompleks yang saling tarik-menarik antara tiga kepentingan yakni konservasi alam, ekonomi, dan faktor militer (ada pangkalan militer yang komplit di pulau ini, AL, AU, dan AD). 

Pada 15 menit pertama perjalanan begitu tenang, sampai pada 20 menit selanjutnya ombak begitu kencangnya sampai membasahi sekujur tubuh mereka yang berada di depanku ini, tak ketinggalan juga kertas gambarku menjadi korban percikan air laut Aceh.

Kamis, 26 September 2013

Bersantai di Pulau Weh, Pulau yang Bukan Terbarat di Indonesia ?

PULAU WEH, pulau yang katanya paling barat di Indonesia. Pulau yang di dalamnya terdapat nama Sabang, yang ketika masih sekolah hanya bisa kunyanyikan tanpa kutahu ternyata letaknya adalah di pulau ini. 

Namun, beberapa hari sesudah perjalananku aku menemukan sesuatu di atlas, yaitu ketika kutarik garis lurus garis paling barat Negara Indonesia. Ternyata pulau terbarat di Indonesia bukan Pulau Weh, melainkan pulau yang terletak di barat laut Pulau Weh, pulau yang bernama 'Breueh' (mohon koreksi jika salah, tak banyak yang kutahu tentang geografi). 

Well, terlepas dari hal tersebut keindahan alami pantainya bisa disejajarkan dengan pantai-pantai eksotis Nusa Tenggara Barat. Bukannya tertarik untuk menyeket ‘Tugu Nol Barat Indonesia’, keindahan pantainya, atau makhluk-makhluk indah dalam lautnya, malah nyeket kakiku sendiri  :), sambil bersantai-santai di atas buaian, dibelai hembusan angin sepoi-sepoi, mendengar nyanyian air laut jernih di bawah yang menghempas batu karang...