We travel, We learn, We sketch

Sabtu, 01 September 2018

Saksi Bisu Kekejaman Bom Atom dan Gerbang Pemisah Dua Dunia

      Hiroshima, merupakan nama yang kurang populer untuk dikunjungi di Jepang bagi masyarakat Indonesia. Namun, sebagai pecinta sejarah, kota ini sangat saya sarankan karena kita  bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kota yang hanya kita dengar dan lihat dari guru dan buku semasa sekolah. Disini terdapat bangunan memorial A-Dome yang menjadi saksi bisu sejarah akhir perang dunia kedua dan merupakan satu-satunya bangunan yang sengaja tidak dirubah bentuknya untuk pengingat dampak mengerikan bom atom dan kedamaian di masa depan.


       Selain itu, kita juga bisa bertanya pada survivor (penyintas) bom atom, yang meski ketika tragedi terjadi dia masih berada dalam kandungan 5 bulan, namun dia memiliki foto dan cerita kehidupan kedua orang tuanya yang selamat dari tragedi ini. Tak perlu banyak bertanya, foto-foto tersebut saya rasa sudah bercerita banyak tentang dampak buruk penggunaan bom atom pada sesama manusia ini. Bom atom, memang solusi tercepat untuk mengakhiri perang dan menghasilkan kedamaian baru, namun sebagai generasi yang sudah hidup di zaman damai tentu mempertahankannya adalah solusi terbaik. F*CK WAR!  LET’S TRAVEL !
      Tidak jauh dari Hiroshima, terdapat bangunan yang sering ditautkan ketika mendengar kata Jepang yakni Torii. Torii adalah bangunan serupa pintu gerbang kuil yang berfungsi sebagai pembatas antara dua dunia, kawasan suci Kamii (sesembahan penganut kepercayaan Shinto) dengan kawasan tempat tinggal manusia. Torii ini sendiri terdapat di banyak tempat di Jepang. Selain di Fushimi Inari, Kyoto; Torii lainnya yang menjadi landmark adalah di Pulau Miyajima yang berada di seberang Kota Hiroshima. Keunikan torii ini, adalah kenampakan yang seolah mengapung jika sedang pasang, sehingga memberikan kesan keramat dan memang benar adanya seperti gerbang pembatas untuk dua dunia.





      Yang menarik di pulau ini menurut saya adalah keasrian pulau yang bisa dipertahankan sedemikian rupa sehingga terkesan masih tradisional. Bangunan-bangunan didesain berasitektur khas desa Jepang. Meski ada penduduk penghuninya yang sebagian besar berusaha di bidang wisata, seperti penginapan, tempat makan, jasa foto, namun pulau ini mayoritas dihuni oleh rusa liar yang turun dari bukit yang tertarik dengan aroma makanan yang dibawa manusia yang sedang berkunjung. Dan ada larangan untuk kita memberikan makanan langsung ke mereka, karena ada kekhawatiran pemerintah bahwa hal itu akan berakibat buruk bagi mereka, meskipun rusa-rusa tersebut akan selalu mengikuti aroma makanan yang kita bawa dengan jinak dan lucunya.

Aturan untuk pengunjung terkait rusa liar

      Bagaimana cara termurah kemari? Pertama kita harus pergi ke Hiroshima. Dari halte tram di depan bangunan memorial A-Dome kita bisa mengambil tram untuk pergi ke pelabuhan kapal ferry ke pulau tersebut. Untuk biaya transportasi pp per orang, tramnya seharga 560 JPY dan ferrynya 360 JPY.

Setelah ferry bersandar, beberapa awak kabin akan berkumpul di seberang membungkuk dan memberi hormat pada penumpang karena telah menggunakan jasa mereka

Kamis, 09 Agustus 2018

7 tips cara termurah trekking ke Annapurna Circuit

Sebelumnya saya pernah tulis bahwa selama 20 hari di Nepal saya hanya menghabiskan 3 lembar uang USD 100 yang saya bawa dari rumah, berikut akan saya bedah rinciannya khusus di trekking AC ini saja. Untuk kalian yang sudah tertarik berangkat trekking ke AC setelah baca tulisan saya sebelumnya, trekking yang saya lakukan sendiri sebenarnya bukanlah full trek seperti jalur klasik dahulu yang memakan rata-rata waktu 16 hari perjalanan dari start di Besisahar (820mdpl) mencapai pass tertinggi di Thorung La Pass dan berakhir di Nayapul (1070 mdpl). Perjalanan jalan kaki yang saya lakukan Berawal di Bhulbule (840 mdpl) kemudian berakhir di Muktinath (3800 mdpl). Saya memilihnya karena pertimbangan waktu dan polusi debu di jalan trekking yang beberapa kali menyatu dengan jalan kendaraan. 

Profil rute Annapurna Circuit

Dari awal perencanaan perjalanan yang saya lakukan berprinsip harus selesai kurang dari 12 hari, safety trekking, target pass tertinggi, dan tetap semurah mungkin sesuai judul di atas. Akhirnya, perjalanan saya selesaikan 10 hari 9 malam.

1. Lakukan solo trekking tanpa guide

Apakah itu diijinkan? Jawabannya adalah ya. Namun, otoritas setempat menyarankan anda membawa guide. Jadi, pilihan tersebut terserah kita. Sebagai gambaran guide per harinya menghabiskan dana. Dengan cara solo trekking kita tidak perlu mengeluarkan dana tersebut. Tips dari saya karena kita solo tanpa guide maupun porter adalah sebisa mungkin pack lightly bawa barang seperlunya. Persiapan juga secara fisik dan mental sebelum berangkat trekking. Biaya yang wajib kita keluarkan adalah kartu registrasi TIMS dan entry permit ACAP yang menghabiskan total NPR 4260. 
Urus sendiri permit anda bisa di Pokhara maupun Kathmandu

2. Tidak usah membeli asuransi
Hal ini menurut saya agak kontroversial mengingat kita akan menuju ketinggian di atas 5000 mdpl. Dan, untuk meminimalisir resiko tentu hal ini dianjurkan. Meski, kebanyakan asuransi tidak mengcover kegiatan outdoor di atas altitude ini, namun saya menemukannya satu dan setelah saya mengisi formulirnya online dikalkulasikan langsung menjadi USD 96 untuk 15 hari. Saya pribadi akhirnya tidak membelinya karena beberapa alasan dan pihak otoritas juga tidak menanyakan hal tersebut, meski ada kolom tersebut di formulirnya.

3. Gunakan moda transportasi termurah
Moda transportasi termurah adalah bus umum. Namun, tidak semua jalan bisa dilalui bus, ada beberapa yang mengharuskan kita menggunakan jip seperti dari Besisahar ke Bhulbule (NPR 400). Oleh karena kemajuan infrastruktur,perjalanan Besisahar ke Bhulbule telah umum dilewati oleh kendaraan, meskipun itu adalah jip sewaan masal bukannya bus umum yang hanya berhenti sampai Besisahar dari Pokhara atau Kathmandu. Bersama dengan warga lokal saya berdesakan di bak jip melintasi medan offroad.
 Sedangkan, dari Pokhara ke Besisahar maupun perjalanan balik dari Muktinath ke Pokhara sudah bisa dilintasi dengan bus umum. 
Jangan tertipu jika melihat aspal mulus, paling hanya sampai 10 menit aja, 12 jam sisanya off-road 

4. Gunakan water tabs!

Selain ramah lingkungan karena tidak menambah sampah di sana. Anda juga bisa mengirit pengeluaran menggantikan pembelian air mineral dalam kemasan. Jika anda ingin minum langsung seperti di gunung-gunung Indonesia tidak saya sarankan. Karena saya sendiri pernah keracunan di India dan Kinabalu (Malaysia). Saya tidak mengerti kenapa, padahal saya tidak pernah merebus atau menjernihkan air jika di gunung Indonesia, mungkin karena perbedaan bakteri atau hal lain. Anda bisa menjernihkan air pipa/salju yang anda jumpai di rute ini dengan tablet yang banyak dijual di apotek maupun filter air. Saya menggunakan water tablet yang hanya menghabiskan 1 tablet untuk 1 liter air.


Penjernih air paling murah dan praktis dibawa kemana saja


5. Bernegosiasilah dengan pemilik penginapan
Banyak warga lokal yang dengan senang hati menerima anda untuk bermalam dengan gratis di penginapan sekaligus warung mereka, asalkan anda makan malam serta sarapan di tempat mereka juga. Tidak di semua tempat memang, seperti di Muktinath dikarenakan tempatnya lebih ramai dan dikunjungi banyak peziarah tidak ada penginapan gratis di sana. Namun, jika setelah bernegosiasi anda tidak diijinkan bermalam dengan gratis, tetap sopan saja dan tidak perlu berkeras. Anda bisa coba menanyakan ke tempat lain atau tetap di sana karena biayanya biasanya di kisaran NPR 300 bergantung fasilitas.



Syahdunya ya penginapannya, hal seperti inilah yang akan kita jumpai setiap hari setelah hari ke 6


6. Bergabunglah dengan solo trekker lain
Selain lebih membuat perjalanan trekking anda aman dan menyenangkan, bergabung dalam kawanan trekker meningkatkan daya tawar anda dalam negosiasi penginapan gratis. Karena pemilik akan sangat mempertimbangkan hal tersebut.
Rekan saya, Pavik dari Polandia sedang bernegosiasi tentang free lodge untuk 6 orang dengan pemilik

7. Pilih menu makanan termurah

Sepele memang, tetapi hal ini sangat membantu jika anda sangat perhitungan dengan budget. Setelah saya analisa, Menu termurah di sepanjang rute ini namun sangat tinggi kalori karena itu sangat kita perlukan adalah fried rice dengan porsi nasi 2X dari Indonesia. Tapi, jika masih kurang juga anda bisa memesan menu sedikit lebih mahal yakni "Vegetarian Dhal Bhat" menu umum di Nepal yang bisa direfill nasi maupun sayurnya. Bawa teh dan gula sendiri jika anda ingin agak merasa lebih homey, meski sedang di tengah pegunungan antah berantah. Anda bisa pesan air panas satu teko sehingga lebih puas dan bisa berbagi dengan rekan perjalanan anda sambil menikmati view pegunungan tertinggi di dunia. 



Maaf gak ada foto Dhal Bhat, selalu kelupaan buat foto karena selalu langsung sikat begitu makanan terhidang di meja, maklum selalu lapar gara-gara jalan kaki 7 jam sehari, ini adalah Kari daging Yak yang biasanya saya makan klo sudah bosan makanan vegan

Setelah melakukan hal tersebut, total pengeluaran selama 11 hari jika dikalkulasikan adalah sebagai berikut;
a. VISA 15 hari USD 25 setara NPR 2500
b. Permit NPR 4.260 
c. Penginapan 1 malam di Pokhara NPR 300
d. Konsumsi di Pokhara 2x 1 hari NPR 600
e.  Bus umum Pokhara ke Besisahar NPR 400
f. Jip Besisahar ke Ngadi NPR 300
g. Akomodasi (9 malam di AC dan 1 malam di Pokhara) & konsumsi 10 hari NPR 14.000
h. Bus umum Muktinath ke Jomsom NPR 300
i. Bus umum Jomsom ke Pokhara NPR 1000
Total NPR 23.660 atau sekitar USD 236,6 atau IDR 3.312.400, Jika anda ingin lebih lama dari 15 hari bisa ambil visa 30 hari (USD 40) seperti saya kemarin.
Tinggal berburu tiket promo pesawat murah deh.. atau jalur darat dari India seperti saya.

Rabu, 08 Agustus 2018

7 alasan kenapa kalian para pendaki Indonesia harus menjajal rute trekking Annapurna Circuit 5416 mdpl Nepal

Sudah pernah dengar tentang rute trekking klasik legendaris ini kan? Ya, rute ini berada di Annapurna Region, Nepal. Dimana di region ini sendiri ada 3 rute trekking yang terkenal Annapurna Poon Hill, Annapurna Basecamp (ABC), dan yang paling legendaris dan terpanjang Annapurna Circuit (AC). Di tulisan ini saya akan bercerita tentang kenapa kalian para pendaki Indonesia harus ke rute AC ini, berikut ini penjelasannya:

1. Menambah pengalaman di luar kandang
Saya yakin banyak pendaki Indonesia yang berpengalaman di gunung-gunung dalam negeri. Jadi, mengapa tidak untuk menjajal rute di luar negeri ini sekali seumur hidup. Percayalah pengalaman trekking di rute Annapurna Circuit ini menawarkan pengalaman yang belum pernah anda dapatkan di dalam negeri. Dikarenakan perjalanan trekking yang memakan waktu lebih lama daripada di dalam negeri (bisa sampai 16 hari untuk full trek). Mulai dari hari-hari bersalju yang tak pernah dijumpai di negeri sendiri, keramahan orang Nepal yang mengingatkan pada negeri sendiri; salah satunya, seringnya saya dibantu oleh para guide atau porter lokal padahal saya tidak memakai jasa mereka karena saya solo trekker dan mereka melakukannya dengan senang hati tanpa memungut imbalan fee . Sering disangkanya kita sebagai orang Nepali bukan hanya oleh warga Non-Nepal namun termasuk juga oleh orang Nepali sendiri, belajar bahasa baru, bertemu pendaki seluruh dunia bahkan pendaki dari Israel yang akan banyak kalian temui disini dan gak bakal jumpa di Indonesia kan hehe... , rata-rata baru aja selesai wamil tuh mereka, silakan aja tuh ajak diskusi atau smoke some together.
Salah satu bentang alam yang ada di rute ini, masih banyak bentang alam yang berbeda di rute ini, seperti miniatur dunia



2. Surga pendaki Seluruh Dunia
Tau gak di Nepal bahkan saya sering lihat stiker atau sablon di baju yang bertuliskan. Heaven is myth, but Nepal is real. Bukan bermaksud menyinggung kepercayaan kita tentang filosofi hidup seseorang, namun tulisan tersebut membuat saya senyum-senyum sendiri dan saya mengakui Nepal adalah surga dunia buat pendaki. Bayangkan saja, 8 dari 10 gunung tertinggi ada di Nepal. Saya emang gak nyoba ke puncak gunung-gunung tertinggi tersebut tapi trekking di Annapurna Circuit sudah lumayan memuaskan hasrat saya buat "mencicipi" sepotong kepingan dari surga tersebut. Annapurna Circuit ini sering dinobatkan dalam list top 20 sebagai rute trekking terbaik dunia karena spektrum bentang alamnya yang lebar mulai dari tropis, subtropis, sampai ke arktik.

Jurang jurang tertinggi di dunia

3. Berada di ketinggian lebih tinggi dari 2 gunung tertinggi di dunia
Meskipun altitude bukanlah tujuan utama tapi hal ini cukup membuat saya untuk mengubah itinerary trekking saya. Saya awalnya memilih Annapurna Base Camp trek (ABC) dengan altitude 4130 mdpl dan rata-rata bisa diselesaikan dalam 4 hari sehingga memungkinkan buat saya karena hanya memiliki 20 hari di Nepal baik untuk trekking, persiapan pra maupun istirahat pasca pendakian serta menjelajah kota-kota bersejarah di Nepal. Kemudian, saya melihat di buku bahwa altitude tertingginya Annapurna Circuit adalah  5416 mdpl, dan itu sudah lebih tinggi dari 2 gunung tertinggi dunia versi Messner, Carstenz di Papua dan Vinson Massif di Antartica, langsung saja otak saya seolah terpicu untuk mencoba rute dengan altitude lebih tinggi ini karena jika hanya 4130 mdpl berarti itu hanya beberapa meter lebih tinggi dari Puncak Gunung Kinabalu 4095 mdpl yang beberapa bulan lalu saya daki. Sampai saya mencoba mencari tahu dari buku, internet, traveler yang saya jumpai, warga lokal, berbagai cara teraman (namun juga tetap termurah hehe..) sehingga dapat menyelesaikan rute ini dalam waktu kurang dari 12 hari.


4. Mencatatkan nama orang Indonesia yang masih sangat sedikit di rute ini
Pernah saya baca di blog pendaki Indonesia ini , yang mengatakan bahwa orang Indonesia sampai dengan tahun 2015 tercatat baru ada 16 orang. Jika kalian mencoba sekarang setelah baca tulisan saya ini bisa jadi kalian adalah orang ke 200 hehe... mengingat saya gak ketemu orang Indonesia selain 2 orang dari Jakarta dengan guide-nya orang Nepal Sherpa di hari ke-8, selain itu gak ada tuh trekker lain.
tebak yang mana Sherpa asli? 
Hehe... Wajah saya sudah menghitam karena menggigil kedinginan, guide Sherpa yang banyak membantu saya masih santai aja


5. Mengenalkan nama Indonesia ke kancah internasional 
Tau gak? Selama saya di Nepal, banyak loh orang yang gak tau negara Indonesia. Tanpa berusaha berprasangka terhadap latar belakang pendidikan mereka, saya hanya senyum saja sering mendengar jawaban mereka. Kadang jawaban mereka negaramu itu mananya India? Apakah Indonesia bagian dari Malaysia? Indonesia itu yang punya film keren yang judulnya Ong Bak itu kan? Indonesia itu yang benderanya Merah Putih biru itu kan? Jadi, meskipun secara fakta Indonesia berpenduduk terbesar ke-4 setelah Cina, India, AS, tapi gak membuat nama negara kita seterkenal 3 negara tersebut. Itulah peran yang harus kita lakukan untuk menginternasionalkan Indonesia sesuai kehendak pendiri bangsa.

Indonesia, Nepal, Argentina, Luxembourg, USA, India, China Squad.. rombongan hari-hari terakhir saya sampai kota terakhir


6. Relatif murah, apalagi alasan berani ke luar negeri kalo bukan ini
Hanya menghabiskan 3 lembar uang (3 x 100 USD) untuk semua biaya 20 hari di Nepal, 10 hari trekking, 10 hari menjelajah kota-kota bersejarah di Nepal. Namun di luar tiket masuk ke Nepal dan keluar. Biaya di luar ini tidak saya cantumkan karena bisa berbeda-beda mengingat harga tiket promo yang kadang bisa sangat murah serta perjalanan saya masuk ke Nepal kemarin yang via darat dari India. Hal yang membuat murah adalah seringnya saya mendapat penginapan gratis di rute ini dikarenakan bernegosiasi dengan pemilik penginapan untuk  sarapan dan makan malam di tempat mereka serta beberapa trik lain. 
Warung plus penginapan lokal



7. Makin bersyukur terhadap negara sendiri
Setelah di Nepal 20 hari, saya makin bersyukur tinggal di Indonesia, yang meskipun dari dulu masih negara berkembang, tapi infrastruktur kita jauh lebih bagus, tanah dan iklim kita yang jauh lebih mendukung membuat kita gampang buat menanam tanaman pangan, beda seperti di Nepal yang harus mengimpor dari India sehingga variasi sayur di warung makan disini gak seperti warung di negeri kita.
tertunda 4 jam di perjalanan, jalanan terkadang longsor ... harus cadangkan waktu transportasi ya kalo di Nepal .. jangan mepet-mepet waktunya

Kamis, 25 September 2014

Mengunjungi Kota yang pernah Dipimpin Bapaknya Chairil Anwar

Rengat, mungkin tak banyak yang tahu nama kota ini. Sebenarnya aku pun tahu nama kota ini karena secara tak sengaja tinggal di daerah yang beribukota kabupaten di kota ini. Sebagai warga negara baik yang mencoba untuk mencintai negeri yang terlalu banyak berita buruk ini, maka tak ada salahnya untuk lebih mengenal lingkungan tempat kita tinggal, rakyat, serta sejarahnya. Harapannya akan timbul lagi rasa cinta terhadap negeri ini :).

Menurut sejarahnya, kota ini didirikan oleh Raja Kesultanan Indragiri, Sultan Ibrahim. Beliau merupakan keturunan dari Sultan Malaka. Pada masa itu Sultan sering mengangkat raja kecil dari keturunan maupun keluarganya sendiri di beberapa daerah yang dekat dengan pusat pemerintahannya untuk memperkuat kekuasaannya, salah satunya di kota ini yang berada di pinggir Sungai Indragiri yang bermuara di Selat Malaka.

Ada sebuah danau yang terkenal dengan sebutan Danau Raja di kota ini. Dikatakan beliau mendirikan istana di pinggir danau ini. Namun peninggalan asli istana kini sudah tidak ada, sehingga digantikan oleh replika yang dibuat oleh pemerintah tepat di pinggir danau ini juga. 

Selain di Kota Rengat, peninggalan kerajaan Indragiri banyak ditemukan di daerah sekitarnya, di beberapa tempat tersebut sering ditemukan patung singa yang sedang duduk siaga, hal ini kemungkinan ada kaitannya dengan gelar Narasinga pada beberapa Raja Indragiri. 


Ada pula Rumah Tinggi, bangunan megah lawas, terbuat dari kayu, dengan arsitektur dan ornamen khas Melayu yang menarik perhatianku. Rupanya bangunan ini dulunya merupakan rumah Menteri Kerajaan di masa Kesultanan Indragiri. Kini beberapa peninggalan seperti meriam, senapan serta foto dan gambar bangsawan terdahulu dimusiumkan di bangunan ini.




Dan jangan lupa, Ayahanda dari Chairil Anwar pernah menjabat sebagai Bupati di Kota Kabupaten ini lho...meskipun pujangga besar Indonesia tersebut bukan dilahirkan di kota ini. Beliau juga gugur di kota ini karena berjuang mempertahankan kota dari serangan Agresi Militer Belanda pada tahun 1949 bersama dengan Tentara Republik Indonesia serta rakyat Indragiri.

Meskipun banyak peninggalan yang bersejarah di kota ini, terkesan lingkungan sekitar maupun isi di dalam bangunan-bangunan bersejarah tersebut kurang ada perawatan. Sangat mengkhawatirkan memang jika nanti generasi penerus jangankan memiliki kecintaan terhadap negeri, kemungkinan bangunan dan peninggalan nenek moyang mereka sendiri dianggap onggokan tak berarti. 

Kamis, 18 September 2014

30 Menit di Kampung Manusia Purba

KOTA SOLO...Kulihat jam digital di ponsel, masih ada 2 jam lagi untuk bertemu teman semasa sekolah sesuai dengan waktu yang kami sepakati sebelum aku meninggalkan Pulau Jawa. Lampu merah yang ada di depan mengisyaratkan untuk menghentikan tungganganku sejenak, dan kulihat ada marka penunjuk arah ke sebelah utara yang menunjukkan arah Museum Sangiran. Tiba-tiba langsung saja tercetus ide untuk menyambanginya. Selama aku masih tinggal di Jawa, sebenarnya aku sering melihat marka tersebut dan mendengar tentang namanya, hanya saja belum pernah aku mengunjunginya, tidak menjadi prioritas dalam impian destinasi, tempat yang dekat dengan rumah pasti bisa kesana kapan saja pikirku. Sebagian besar orang sering berfikir demikian juga, Namun justru hal tersebut yang menyebabkan banyak orang sering tidak mengenal lingkungan terdekat mereka.

20 menit dari kota Solo ke utara sampailah aku di kampung manusia purba yang ditemukan oleh paleontolog di jaman kolonial dulu. Di masa tersebut, paleontolog Eropa berlomba-lomba untuk menemukan awal mula nenek moyang manusia, mereka pergi ke seluruh penjuru dunia, saling mengemukakan teori dan hipotesis mereka tentang fosil maupun peninggalan yang mereka temukan, baik itu morfologi, cara hidup, perkembangan, sampai kepunahannya. Tahun 30-an  tersiarlah kabar ke seluruh dunia, Ditemukan Manusia Purba dari Jawa!! Pithecantropus Erectus.  

Sangiran merupakan situs yang terlengkap di Asia karena bisa ditemukan beberapa fosil manusia purba berbeda dari masing-masing jaman yang berbeda pula.  Karena kontribusi terhadap dunia arkeologi, antropologi, geologi dan ilmu pengetahuan yang begitu besar, UNESCO menetapkan Sangiran sebagai Warisan Kebudayaan Dunia kemudian dibangunlah Museum Manusia Purbakala.Terdapat 2 ruangan yang memamerkan koleksi berupa fosil manusia purba, hewan purba, batuan, artefak, serta diorama yang menggambarkan bagaimana kondisi awal bumi, sampai cara hidup manusia purba. Melihat fosil-fosil ini seperti mengingatkan impian masa kecilku yang bercita-cita ingin menjadi “penemu dinosaurus”, fosil, dan semacamnya...Sebenarnya ingin aku berlama-lama di tempat ini, namun aku sedikit terlambat sampai kesini...pintu ruang pameran sudah akan ditutup...jadi terpaksa kuambil semacam “quick tour”, cukup 30 menit yang penting bisa melihat koleksi semuanya. Kuharap lain kali bisa mengunjungi museum ini lagi dan berlama-lama menjelajahinya. 


Kamis, 03 Juli 2014

Ternyata Riau Punya Pantai, Berpasir Unik Bahkan!


Berawal dari rasa penasaran apakah ada pantai yang bisa dinikmati di provinsi Riau, aku mencoba mencari-cari sampai akhirnya menemukan info tentang pantai yang disebut Pantai Solop. Dikatakan bahwa pantai ini terletak di Kabupaten Indragiri Hilir, bagian selatan dari Provinsi Riau. Seketika aku langsung tertarik untuk melihat penampakan sebenarnya dari pantai tersebut, mengingat letaknya juga yang dekat dengan tempat tinggalku di Riau. 

Sampailah kami berempat di Tembilahan, Kota Kabupaten Indragiri Hilir, setelah bertanya-tanya pada warga sekitar, aku mengetahui bahwa untuk menuju pantai tersebut kita perlu menyeberang ke Pulau Cawan terlebih dahulu dari pelabuhan rakyat yang ada tepat di belakang tradisional kota ini.
Aroma khas pasar tradisional mulai tercium, amis, busuk di keramaian pelabuhan ini. Antrian warga yang akan menggunakan jasa pelayaran rakyat mulai terlihat, kebanyakan dari mereka adalah warga di pulau-pulau kecil di sekitar Indragiri Hilir yang sedang belanja mingguan untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Tiap hari terdapat jadwal keberangkatan dimulai dari pagi sampai jam 4 sore, yang tentunya hanya terbatas sehingga penumpang pun rela berdesak-desakan baik dengan penumpang lainnya maupun hewan dan barang-barang belanjaan mereka, tidak hanya di tengah, tapi bahkan juga di atas atap perahu motor ini. Sepanjang perjalanan kami bercakap-cakap dengan penumpang, mulai dari harga bensin yang bisa mencapai Rp 20 ribu di pulau-pulau kecil sekitar sampai tujuan perjalanan kami. Mereka menganggap aneh ketika kami mengatakan bahwa kami berencana berlibur di Pantai Solop di luar hari libur Lebaran.  ANEH? YA mereka menganggap seperti itu, terlihat dari raut wajah mereka.


Melewati hutan-hutan nipah sepanjang muara, laut yang berwarna kecoklatan, dan celah-celah perairan di antara beberapa pulau kecil, nampaklah pulau yang dikelilingi mangrove ini, Pulau Cawan begitu pulau ini disebut. Hanya rombongan kami yang turun di pulau ini, nakhkoda mengatakan mereka berhenti ke pulau ini hanya jika ada pesanan sebelumnya. 

Pemandangan Rumah-Rumah Warga di Pulau Cawan

 Kami mulai berjalan mencari pantai yang dikatakan tidak jauh dari pelabuhan pulau ini. Tak jauh dari sana terlihat plang sambutan “selamat datang di kawasan wisata Pantai Solop”. Untuk menuju ke pantai kita melewati jalan panggung kayu yang di sebelahnya terdapat beberapa rumah kayu warga dan juga pepohonan mangrove. Jalan kemudian menyambung dengan jalan buatan dari semen dan bata. Menurutku, pantai ini seperti ditinggalkan dan tidak terawat terlihat dari bangunan toko, pondok, jalan buatan yang mulai hancur dan ditumbuhi tumbuhan liar. Tapi terlepas dari  semua itu, pantai ini memiliki keunikan tersendiri, pasir pantai ini berwarna putih, kecoklatan. Warna putihnya berasal dari sersah hewan laut (kerang, siput) bukannya dari bebatuan atau kerikil seperti pasir putih pada umumnya, sedangkan warna coklatnya berasal dari sersah tumbuhan di sekitar. Sebenarnya kami penasaran untuk mengelilingi pulau ini dengan mengitari garis pantainya, namun apa daya semakin menjauhi kawasan wisata sudah bukan pasir lagi yang kami jejak melainkan lumpur setinggi lutut dan rapatnya hutan. Terlihat babi hutan melompat secepat-cepatnya masuk ke hutan begitu mengetahui keberadaan kami. Ketiga kawanku agak kecewa dengan perjalanan ini karena tak sesuai dengan yang mereka harapkan, sehingga kami berencana untuk secepatnya meninggalkan tempat ini. 


Jam menunjukkan pukul 2 ketika kami sampai di pelabuhan tempat kami sampai di pulau ini. Kami bertanya ke warga sekitar tentang perahu yang bisa mengantarkan kami balik Riau daratan. Mereka semua agak ragu karena perahu jarang kemari jika tidak ada pesanan. Sehingga aku memutuskan untuk menghubungi agen tiket perahu yang mengantar kami kesini. Dia mengatakan agar kami  tenang saja,  karena dia sudah menghubungi kapal terakhir yang akan membawa kami kembali. Sejam berlalu, kami bercengkerama dengan Amir, penduduk sekitar yang mengatakan bahwa di pulau ini mereka terdiri dari 20-an KK dan semuanya menggantungkan hidup dari laut sekitar. Karena cuaca sedang tidak baik, maka banyak dari mereka yang hanya beraktivitas duduk-duduk di depan rumah, ingin hiburan elektronik pun, mereka mengatakan listrik diesel hanya menyala di malam hari. 

Jam menunjukkan pukul setengah 4, kami mulai cemas dan kuhubungi 2 kali lagi agen tiket,  namun jawaban yang kuterima tetap sama, kami akan dijemput dengan perahu terakhir yang ada gambar bintang di moncong perahunya. Kawan perempuanku langsung mengatakan bahwa dia tidak bisa membayangkan jika dirinya tinggal di pulau ini bahkan untuk semalam saja.

Tiduran di Atas Jala Nelayan, Jenuh Menunggu yang Tak Kunjung Datang

Tiba-tiba perahu motor dengan gambar bintang kuning nampak dari kejauhan, kami berlari mendekati dan berteriak sekencang-kencangnya. Namun perahu tersebut melewati kami begitu saja, harapan kami untuk pulang pupus sudah. Kemudian Amir dan beberapa tetangganya langsung membuka baju dan melambaikannya. Kamipun mengikuti saran dan gerakan pria ini.  AJAIB!!, perahu kembali putar balik mendekati pelabuhan...FUUH.....seketika kebahagiaan tak terperi yang kami rasakan saat itu.
 

Sabtu, 14 Juni 2014

Pantai Kapo-Kapo, Sisi Lain dari Pulau Cubadak "Yang Populer " itu



Ketika mendengar nama Cubadak, pasti dari teman-teman pembaca semua banyak yang tahu  tentang pulau dengan pantai indah yang dikelola secara baik oleh warga negara Italia, yang terkenal bahkan sampai mancanegara. Namun, bagaimana jika aku menyebutkan nama Pantai Kapokapo? Mungkin teman-teman belum pernah mendengarnya. Ya, bahkan kedatanganku ke pantai ini secara tidak disengaja karena rencana untuk mengunjungi Pulau Cubadak yang tersohor itu gagal, terkendala oleh karena peraturan baru yang mewajibkan pengunjung untuk paling tidak membayar biaya menginap selama 2 malam di pulau tersebut. Sekedar info, ketika saya berniat kesana di bulan Februari 2014, setelah bertanya pada pihak pengelola, biaya termurah untuk mengunjungi pulau tersebut (harga 2 malam menginap) adalah sekitar 2 jutaan rupiah. Padahal beberapa tahun lalu, kita bisa mengunjungi pulau tersebut hanya dengan “one day tour” tentu dengan biaya lebih murah.  Setelah merundingkan di pelabuhan bersama teman-teman atas pertimbangan waktu libur yang kurang dari 2 hari dengan berat hati kami berencana untuk merubah tujuan liburan kami.

Setelah temanku bercakap-cakap dengan bahasa Minang dengan nakhkoda setempat, menjelaskan bahwa tujuan kami adalah mencari tempat untuk snorkeling, lalu dia menyarankan kami untuk pergi ke Pulau Kapokapo (pantai lebih tepatnya -baru kuketahui setelah pulang, kuperiksa di Google Map-). Di tengah perjalanan dengan perahu kayu bermotor, kami ditunjukkan pelabuhan Cubadak Paradiso Village yang tersohor itu. Kemudian perahu memasuki jalur yang lebih sempit (semacam teluk) dengan deretan pohon mangrove di sekitarnya. 


Tak lama, nampak daratan di depan kami dengan sedikit rumah kayu semi permanen. Desa Kapo-Kapo demikian tempat ini disebut, terletak di Pulau yang sama dengan Resort Cubadak yang terkenal itu. Namun, tidak demikian halnya dengan desa ini, tidak mewah, rumah mereka tidak nampak indah, tidak banyak aktivitas yang dilakukan penduduk yang sedikit itu. Terdapat beberapa kerbau yang melintas sepanjang perjalanan kami menuju pantai yang akan ditunjukkan nakhkoda kapal, sehingga temanku nyeletuk ,”ini sih namanya Pulau Kabao-Kabao (kerbau dalam bahasa Minang) bukan Kapo-Kapo.”

Berjalan kaki sekitar 15 menit, sampailah kami di pantai yang nampaknya jarang dikunjungi wisatawan ini, berpasir putih, nyiur kuning melambai, air yang bening, namun tak nampak banyak hewan laut yang nampak di pantai ini. Sehingga kawanku sedikit menyesal karena tidak bisa melakukan snorkeling seperti yang diceritakan nakhkoda kami, lalu mengajakku untuk segera pergi dari pantai ini, meskipun aku sebenarnya menikmati saja siih... 


Kami kembali ke jalur dimana kami masuk tadi, dan memutuskan untuk tidak kembali dengan tangan hampa (kering lebih tepatnya). Kami berenang di perairan yang dikelilingi oleh hutan bakau ini, di bagian jernihnya, letaknya agak menjauhi daratan.

Pulau Cubadak dan rute menuju Pantai Kapokapo melewati jalur hutan mangrove (berdasarkan googlemap)